Unbearable, Impuls untuk Bertanya, Chapt.#2

“Bertanya: Kunci untuk Membuka Ilmu,” Sabda Nabi Saw.

Oleh Hernowo

“Ilmu itu seperti perbendaharaan yang sangat berharga. Kuncinya adalah bertanya. Bertanyalah kalian, mudah-mudahan Allah merahmati kalian; karena dalam bertanya itu, ada empat kategori orang yang diberi pahala. Orang yang bertanya, orang yang mengajar, orang yang mendengarnya, dan orang yang menggemari mereka.”

Setiap kali memulai kegiatan menulis, saya tentu bertanya. Berpijak pada pengalaman menulis yang saya jalani selama bertahun-tahun, menulis tidak dapat sekali jadi. Saya hanya dapat menjalankan kegiatan menulis secara hampir sempuna jika ketika mengeluarkan pikiran saya, pikiran tersebut saya keluarkan sedikit demi sedikit. Oleh sebab itulah, saya senantiasa membagi “ruang” untuk menulis itu menjadi dua: privat dan publik. Di “ruang privat”, saya bebas menumpahkan apa saja. Di ruangan ini, kegitan menulis yang sangat bebas itu tentu saya awali dengan bertanya.

Pertanyaan itu saya tuliskan di layar komputer atau di selembar kertas. Saya tidak bertanya di dalam pikiran. Memang sih, pertanyaan itu saya tujukan kepada diri saya sendiri. Namun, agar tidak mengganggu pikiran, pertanyaan itu saya tampakkan secara tertulis. Ketika saya menampakkan pertanyaan itu, seakan-akan pikiran saya lega dan berjarak. Saya pun kemudian dapat berpikir untuk menjawabnya. Kadang, jawaban tidak langsung saya peroleh. Jika demikian keadaannya, saya pun terus bertanya. Pernah, ketika mengawali sebuah tulisan, isinya hanya pertanyaan.

Hadis Nabi yang saya letakkan di awal tulisan ini berasal dari buku Jalaluddin Rakhmat, Jalan Rahmat. Hadis itu berada di halaman 81 di sebuah tulisan yang berjudul “Bertanya sebagai Media Mencari Ilmu”. Ketika saya membaca hadis ini—meskipun secara naluriah saya sudah tahu—diri saya bergetar. Saya tidak dapat menyembunyikan rasa bahagia saya. “Dahsyat!” teriak saya di dalam hati. Saya bahagia karena saya sudah mengamalkannya di dalam kegiatan menulis. Lewat bertanya secara aktif dan tajam kepada diri saya, seakan-akan saya sedang melakukan penggalian ke kedalaman diri saya. Pertanyaan itu mendorong saya untuk menemukan sesuatu yang baru dan berbeda yang ingin saya tulis yang berasal dari diri saya.

Menurut Kang Jalal, Al-Quran juga suka bertanya. “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama?” (QS Al-Ma’un [107]: 1)—untuk mengambil sebuah contoh. Dalam bahasa Arab, bertanya disebut dengan istifham, yang berarti mencari pemahaman. Memang, itulah tujuan bertanya yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Proses riset atau penelitian, lanjut Kang Jalal, adalah proses bertanya yang lebih terdisiplin. Jika kita perhatikan hadis Nabi tentang bertanya ini, kita dapat mengetahui bahwa Nabi sangat menghargai usaha-usaha riset. Orang-orang yang terlibat dalam sebuah riset pun semuanya mendapatkan pahala.

Dalam memulai kegiatan menulis di “ruang privat”, yang tentu saya awali dengan bertanya kepada diri saya sendiri, saya mendapatkan banyak sekali manfaat. Pertama, paling mudah mengawali menulis ya dengan bertanya, “Apa yang akan aku tulis?” (jika tak ada topik dan sekadar untuk latihan menulis setiap hari) serta “Apa yang aku ketahui tentang belajar yang menyenangkan?” (jika sudah ada topik tetapi belum jelas arah pengembangan topik itu). Saya senantiasa menganjurkan kepada para peserta pelatihan menulis yang saya ampu untuk memulai dengan kalimat bertanya setiap kali ingin menulis. Tak sedikit orang yang kebingungan untuk memulai menulis. “Apa yang harus saya tulis?” Jawab saya, “Buatlah kalimat tanya dan jika nanti dapat Anda jawab serta Anda lanjutkan dengan lancar, kalimat tanya itu dapat Anda hapus.”

Kedua, pertanyaan akan menggerakkan pikiran. Ini sangat penting untuk membuat kegiatan menulis itu mengalir. Mungkin saja pertanyaan itu hanya sepele atau berada di luar konteks. Namun, apa pun jenis pertanyaan itu, pikiran akan bergerak mencari sesuatu. Dan ketiga, sebagaimana sabda Nabi, pertanyaan akan membantu kita membuka perbedaharaan ilmu yang mungkin saja sudah tersimpan di dalam diri kita. Ketika saya bertanya, saya kadang diantarkan oleh pertanyaan itu menuju gudang penyimpanan “tacit knowledge”. “Tacit knowledge” adalah pengetahuan yang sudah ada di dalam diri saya akibat pengalaman bertahun-tahun yang saya peroleh ketika menjalankan sebuah kegiatan tertentu secara berulang-ulang. Pengetahuan tersembunyi itu akan hilang jika tidak saya todong dengan pertanyaan dan tidak saya eksplisitkan dalam bentuk tertulis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: